Makin Halal Makin Bernilai di Mata Pelanggan
Posted on: April 3, 2018, by : smartbalance wheel

Screenshot_214SUDAH satu tahun ini Nita mengaplikasikan standard yang ketat atas semuanya product makanan, minuman, serta obat-obatan yang dibelinya di toko moderen, warung, serta tempat tinggal makan, bahkan juga yang dipesannya lewat beberapa toko dalam jaringan.

Pegiat usaha rumahan di Bogor, Jawa Barat itu senantiasa meyakinkan product yang dibelinya betul-betul halal dari sisi komposisi bahan, sistem pembuatan, serta masa kedaluwarsa.
Paling tidak ia memerhatikan label halal dari Majelis Ulama Indonesia pada paket product makanan atau minuman yang akan dibelinya. Bila belumlah ada label halal dari MUI, ia akan tidak beli beberapa produk itu.

Ketentuan yang ketat sebelumnya beli serta konsumsi product yang di jual di market juga diaplikasikan oleh Nurida. Wanita paruh baya itu lebih pilih product memiliki bahan organik atau alami, terlebih untuk product obat-obatan, bahan pembersih tubuh, serta kosmetik. Menurutnya, product paling baik yaitu yang terbuat dari beberapa bahan alami dengan sesedikit mungkin saja kombinasi bahan kimia.

Ia mengupayakan senantiasa menggunakan sabun, shampo, kosmetik berbahan herbal, seperti madu, propolis, serta minyak zaitun. ” Beberapa bahan herbal ini Insya Allah menyehatkan karna di ajarkan juga oleh Nabi Muhammad, ” tuturnya.

Untuk Nurida, product memiliki bahan organik, terlebih yang disebut sisi dari ajaran Islam di pastikan halal serta memiliki kandungan banyak faedah, dan lebih mempunyai nilai dalam agama.

Dalam satu kronika yang di keluarkan oleh World Islamic Economic Komunitas (WIEF) atau Komunitas Ekonomi Islam Dunia Edisi Agustus 2016, seseorang entrepreneur asal Malaysia, Anja Juliah, menulis kalau satu diantara pelajaran perlu dalam jual satu barang serta jasa tidak cuma menunjukkan tampilan serta faedah, namun juga nilai yang juga akan diperoleh oleh pelanggan atau pemakai atas product itu.

Dengan perkembangan jumlah pemeluk Islam di semua dunia yang semakin jadi bertambah, umat muslim yaitu pasar paling besar untuk semua product barang serta jasa. Tetapi, beberapa produsen barang serta penyedia jasa mesti mengerti kalau pemahaman umat Islam juga akan ajaran agamanya yang saat ini semakin kuat begitu merubah ketentuan mereka untuk beli serta memakai satu product.

Nita serta Nurida yaitu sedikit dari 216, 66 juta umat Islam di Tanah Air (BPS 2015) yang menilainya kwalitas satu product dari pojok pandang agama, yaitu sudahkah barang yang mereka beli penuhi prasyarat halal serta memperoleh sertifikasi dari MUI.

Menurut Kepala Pusat Penelitian serta Pengembangan Product Halal (PRPPPH) Kampus Airlangga, Surabaya Dr Mustofa Helmi Effendi pernyataan halal atas product kosmetik, obat, serta makanan adalah gosip yang serius.

Di bagian beda, pernyataan halal juga jadi kelebihan dari satu product yang senantiasa di promosikan pada orang-orang. Karenanya, penelitian berkaitan dengan bahan serta kandungan product manfaat meyakinkan standard halal, dikatakannya jadi hal yang begitu diperlukan.

Lihat kesempatan itu, Kampus Airlangga resmikan ” halal center ” yang berperan jadi Instansi Pemeriksa Halal. Mustofa menyebutkan laboratorium di Pusat Halal itu jadi tempat untuk membahas bahan produksi manfaat mendeteksi DNA yang terdapat dalam satu product.

” Halal center “, kata dia, juga akan jadi pusat penelitian halal. Pihak industri bisa memakai laboratorium ini untuk lihat apakah kandungan produknya halal atau tidak, namun lewat sistem penugasan tubuh pemeriksa halal Kementerian Agama juga. Pusat Halal itu juga akan mengatasi tiga bagian penelitian paling utama, yakni pangan, obat-obatan, serta humaniora.

Pengembangan bagian humaniora mempunyai tujuan merubah pandangan orang-orang supaya lihat perlunya penetapan halal dalam beberapa produk konsumtif, seperti makanan, minuman, obat-obatan, serta kosmetik.

(Baca Juga : 10 Wanita Kerajaan Paling cantik di Dunia Buat Kesengsem)

Menurut MUI, halal berarti dibenarkan, sesaat lawannya yaitu haram yang bermakna dilarang, atau tidak dibenarkan menurut syariat Islam. Halal umumnya dinyatakan dengan kata ” thoyyib ” yang berarti berkualitas serta tidak membahayakan kesehatan.

Problem minuman dan makanan dalam ajaran Islam dijelaskan dalam sebagian ayat suci Al Qur’an serta hadis Nabi Muhammad SAW. Terjemahan Ayat 128 Surat Al-Baqarah, ” Hai Manusia, konsumsilah dari apa yang ada di bumi, yang halal serta yang thoyyib. Serta jangan sampai anda menuruti jejak setan (yang menyukai tidak mematuhi atau melampaui batas). Sebenarnya setan itu yaitu musuh anda yang riil “.

(Baca Juga : Artis-Artis Tanah Air Ini Awet Muda, Anda Tidak Akan Kira Umurnya)